Wednesday, November 23, 2016

Menjadi Pejabat Struktural

Bismillaahirrahmaanirrahiim..

Weiiits judulnya.. Yaaah anggap saja saya curhat atau lebih tepatnya mencari pembenaran.
Siapa sih yang tidak ingin jadi pejabat? Ayooo ngacung!! Terutama bagi PNS, menjadi pejabat struktural adalah suatu anugerah (halah bahasanya). Banyak yang "sikut-sikutan" agar bisa menduduki suatu jabatan struktural. Beruntungnya saya (Alhamdulillah) bekerja di instansi yang tidak perlu "sikut-sikutan" untuk mendapatkan suatu jabatan.


Yah, di instansi tempat saya bekerja adalah salah satu dari sekian banyak instansi menurut saya yang memiliki sedikit SDM dibandingkan institusi lain. Ditambah lagi dengan mekarnya daerah, sehingga butuh kantor definitif.

Namun, pemekaran daerah tidak bisa berbanding lurus dengan berdirinya instansi saya. Idealnya instansi saya ada di setiap kabupaten dan di setiap kecamatan ada penanggung jawabnya masing-masing. Idealnya lho yaaa. Apalah daya, SDM kami belum memungkinkan untuk mengisi semua kekosongan daerah.

Jangankan untuk mengisi kabupaten baru, kabupaten lama saja sebelum dimekarkan masih banyak yang belum memiliki pejabat struktural eselon 4 atau lebih dikenal dengan kepala seksi (saya singkat kasi saja yaaa). Kalaupun sudah ada kepala seksi, stafnya yang tidak ada. Jadi kasi merangkap staf. Bahkan, ada juga kasi yang "merangkap" dengan pengurusan segala macam hal yang berhubungan dengan keuangan. Miris ya. Makanya, saya kadang ngomel-ngomel sendiri kalau dibilang PNS cuma makan gaji buta. 

Salah satu syarat diangkatnya PNS menjadi kasi adalah sudah mencapai golongan 3b. Di instansi saya, jika sudah bergolongan 3b (tetap syarat dan ketentuan berlaku yaaaa), maka akan dipromosikan untuk menduduki jabatan eselon 4 daaaan diutamakan daerah-daerah yang kosong dan jauh dari rumah

Saya yang sudah golongan 3b dengan masa kerja 7 tahun, maka di tawarkanlah kepada saya untuk menduduki jabatan eselon 4 tetapi di kabupaten lain yang letaknya lumayan jauh dari rumah. Naaaaah, di sinilah letak permasalahannya. Saya bersyukur di "lirik" untuk menjadi pejabat. Tapi ada banyak pertimbangan saya sebagai anak dan istri serta ibu. Saya tidak bisa meninggalkan mama saya yang sakit dan cuma bisa mengandalkan orang lain bahkan untuk makan sekali pun. Selain itu, suami saya tinggalnya di Kendari siniiiih dan beliau bukanlah orang yang mendukung LDM.

Alhamdulillah, atasan saya sangat pengertian dengan keadaan saya. Jadilah saya "lolos" dari nominator eselon 4. Hihihi. Yaaaah, apalah artinya menjadi pejabat jika tidak dapat restu suami. Sementara saya jadi pencacah saja lah, sambil tunggu promosi di kota Kendari *ngarep. Hwahaha.

Eniweeei, selamat yaaa buat teman-teman yang sudah di lantik minggu kemarin. Semoga amanah yaaa.

4 comments:

  1. Untuk kita jabatan malah ada unsur menakutkannya (selain urusan harus amanah).. Saya sih masih jauh, tapi belum tentu aman *insecure :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. eeealaaaah..maapkan..lama bingits mi sa nda cek2 blog ku *tidakbertanggungjawab.
      baaah,ko sudah 3a mi tooo,4 tahun lagi siap2 merasakan dagdigdugdueeer di lempar kemana saja..heuheuheu..

      Delete
  2. salam kenal, saya juga dari sultra, tepatnya dari Bau-Bau, hehe :)

    iyaa yaah, idealnya itu bisa tinggal serumah dengan anak dan suami, tapi saya belum termasuk dalam kategori orang yang bisa menjalankan hal ideal itu karena sampai saat ini saya masih tinggal berjauhan dengan anak dan suami *loh, kok malah curhat di sini*

    ReplyDelete
    Replies
    1. salam kenaaal..maapkan saiah yang baru balas..
      saya juga dulu penempatan awal Baubau..hweheheh..
      Iiih,sabar buuu..berjauhan dengan anak dan suami itu sesuatu sekali..Selama suami ridho sih nda masalah..naaah, klo semacam suami saya, suruh keluar saja dari PNS klo begono..wkwkwk..

      Delete