Haduuuh. Sebenarnya saya masih bingung mau kasih judul apa. Intinya sih tentang nama tengahnya Neysa. Tapi namanya juga blog, pasti ngalor ngidul.
Nama anak kedua saya adalah Neysa Athaya Putri H. Lumayan panjang, tapi lebih panjang lagi nama kakaknya. Atiqah Zahwa Ramadhani H. Ini sih obsesi emaknya yang namanya cuma satu kata sajah. Jadi pas buat pasport nyomot sampe nama kakek. Hihihi.
Pas hamil dan sudah tahu jenis kelamin si bayi, mulailah kami pilih-pilih nama. Sampai akhirnya jatuh pada pilihan nama depan Neysa dan nama belakang Putri. Nama tengahnya masih binguuuung. Suami maunya Queenova tapi saya masih kurang sreg. Saya lebih suka Athaya yang artinya anugerah dari Allah.
Setelah melahirkan dan pulang ke rumah kami akhirnya memutuskan memberi nama tengah Athaya. Rasanya lebih cocok saja dengan kondisi microtianya. Ya, apapun keadaan anak kami, dia adalah anugerah bagi keluarga kecil kami.
Bulan november ini, tepatnya tanggal 22, Neysa akan berumur 3 tahun. Selama 3 tahun ini perkembangannya ya normal menurut saya karena tiap anak itu kan unik.
Neysa sebenarnya anak yang ceria. Tapi kalau baru bertemu dengan orang baru, dia termasuk pemalu. Terkadang kalau dia kebetulan ikut ke kantor dan banyak yang menegurnya, dia pasti malu dan ngintilin saya kemanapun saya pergi. Sogokan permen dari teman kantor pun kadang tidak mempan untuk membuatnya bersuara. Tapi jika orang-orang tidak menegurnya, yaaah dia akan lari-larian khas anak kecil.
Neysa juga anaknya kadang suka iseng. Kalau saya bilang sih bakat
Kadang saya suka iseng tanya, "Eca (panggilannya Neysa), mana telinga kecilnya?" trus dia jawab "nda (tidak) ada, digigit meyong". Ga ngerti deh siapa yang ajarin. Kalau marah sama Atiqah, Neysa, dan abinya, saya harus hati-hati. Kadang kalau kita tidak sadar kan suka bilang "tidak ada telinganya kah kalau di kasih tau bla bla bla". Saya berupaya menghindari kalimat itu.
Suatu saat, saya memakai masker yang disangkutkan di telinga. Namanya anak-anak rasa ingin tahu mereka besar sekali. Jadilah mereka kepingin pakai masker juga. Si kakak sih aman biarpun kedodoran tapi dia bisa pakai. Waktu neysa minta di pakaikan juga, ya sedih lah saya, tapi tidak saya tampakkan. Saya menolak untuk memakaikannya karena tidak bisa disangkutkan ke telinga kecilnya. Yes, i told her the truth. Tapi dia tetap keukeuh dipakaikan. Akhirnya saya sangkutkan semua di telinga normalnya (saya bilangnya telinga besar), dia senang, saya terharu. Semoga hatimu selalu menerima keadaanmu apa adanya ya nak. Aamiin.
Nah kan, ngalor ngidul kemana-mana. Ya sudahlah kalau begitu.
p.s. ini masih post yang dipindahkan
No comments:
Post a Comment